Pada ajang E3, Sony mengumumkan PSP terbaru yaitu PSP Go. Dengan bentuk slider, PSP Go lebih kecil dan ringan sekitar 40% dari PSP sebelumnya. Tidak tersedianya slot UMD bukan berarti kaset kecil itu akan dilupakan. Game PSP yang akan datang masih akan berwujud UMD, namun Sony lebih fokus kepada penjualan digital dengan PSP Go. Melalui software Media Go, download game dari internet dapat ditransfer kepada PSP Go, yang memiliki kapasitas memori on-board sebesar 16 GB. Spek lainnya termasuk layar 3,8 inci dan dukungan Bluetooth serta Memory Stick Micro. Rencananya PSP Go akan diluncurkan di Amerika pada bulan Oktober dengan harga $250.
Selain PSP Go, Sony juga mengumumkan sebuah prototype kontroler motion ala Wii untuk PS3, dan segudang games akan datang. Sebut saja Assassin’s Creed 2, God of War 3 dan Metal Gear Solid: Peace Walker. Penggemar Final Fantasy? Tampaknya Final Fantasy XIV akan menjadi sebuah game khusus online, dengan rencana luncur tahun depan. Cukup banyak yang disajikan Sony pada E3 tahun ini, tapi rasanya mereka masih menyimpan satu kejutan kecil: PS3 Slim?
Microsoft menjadi primadona ajang Electronic Entertainment Expo (E3) tahun ini dengan Project Natal. Dalam satu kalimat, “You are the controller”, sangat jelas betapa besarnya gebrakan teknologi yang akan terwujud. Dengan sebuah webcam (gambar diatas) yang dapat melihat secara 3D, gamers dapat menggunakan seluruh badan untuk mengkontrol game. Demonstrasi yang disuguhkan cukup meyakinkan, memukul dan menendang bola, melukis, menyetir mobil, semua dilakukan secara mulus. Microsoft meyakinkan bahwa teknologi ini dapat membaca gerak tubuh hingga ke persendian, mengenali identitas dari wajah, dan mengenali perintah suara secara individu di ruang yang berisik sekalipun. Tidak disebutkan kapan dan harga penjualan teknologi baru ini. Yang pasti, harapan besar bergantung pada Microsoft dan Project Natal untuk memberikan inovasi cara kita bermain video game. Simak promo Natal dibawah ini.
Ini dia inovasi baru yang layak diberitakan! Pada event Google I/O 2009 kemarin, raksasa internet Google memberikan preview Google Wave, sebuah layanan yang mengemas konsep e-mail, chat dan forum dalam tampilan interaktif dengan fitur teknologi canggih. Intinya, yang disebut Wave disini adalah dokumen interaktif. Dimulai dengan lembar kosong, para partisipan sebuah Wave dapat menambahkan teks, gambar, video, peta, dll, dan melakukan perubahan di bagian manapun secara real-time. Fitur real-time memang menjadi unggulan pada Wave, dengan tersedianya penterjemahan instan dan bahkan, setiap huruf yang Anda ketik dapat muncul secara live pada Wave. Masih banyak lagi teknologi yang digunakan pada Wave, bila tertarik Anda melihat video demonstrasi dibawah untuk pemahaman secara detil (durasi 1 jam!).
Google Wave direncanakan luncur tahun ini, dan Google menganut prinsip terbuka pada produk ini, dimana pengembang luar dapat menambahkan fitur baru untuk memperluas fungsi Wave. Jadi, preview yang kita saksikan sekarang hanyalah bagian kecil dari kemampuan Wave nantinya. Semoga saja teknologi baru ini dapat diluncurkan dengan tepat sasaran, karena saya sudah bisa membayangkan banyaknya kemudahan yang akan diberikan Google Wave.
Bagi yang doyan tulis e-mail sambil berjalan, tersedia E-mail n’ Walk. Fungsinya simple namun genius: menampilkan gambar yang ‘dilihat’ oleh kamera iPhone sebagai background saat menulis pesan. Inilah contoh bagus dari augmented reality, konsep dimana realita dipadukan dengan dunia digital. Secara praktek memang tidak terlalu berguna, toh fokus kita akan tetap tertuju pada on-screen keyboard dan pesan yang sedang kita tulis. Tapi inovasi seperti inilah yang membantu konsep augmented reality menjadi kenyataan. Jangan coba-coba gunakan app ini saat menyetir!
Dalam jangka waktu beberapa bulan saja, Amazon meluncurkan versi ketiga dari produk buku digital mereka. Kali ini dengan layar yang lebih lebar, 9,7 inci. Tidak banyak perubahan fitur lain, dari segi koneksi masih menggunakan wireless 3G, bisa browsing website yang simpel, tapi sayang layar masih hitam putih. Produk reader seperti Kindle DX ini memang jelas tujuannya, menggantikan cetak kertas. Teknologi E-ink memang lebih nyaman dibaca dalam jangka waktu lama dibanding layar LCD. Tapi dengan harga $489, hanya pembaca buku sejati yang akan membeli produk mahal dengan fitur terbatas ini. Strategi Amazon mungkin bekerja-sama dengan institusi pendidikan, untuk penggunaan Kindle DX di sekolah dan universitas. Yang pasti perkembangan produk reader ini masih melaju cepat. Tidak lama lagi akan muncul dengan fitur layar touchscreen dan berwarna, dan kemampuan multimedia dengan OS yang canggih. Lalu, apa bedanya dengan laptop tablet?